Kasus ISPA Akibat Karhutla Tembus 333 Ribu, Balita Ikut Terdampak
Bagikan
23 Oktober 2026 | Author :
Foto: Ilustrasi kabut polusi yang menyelimuti kawasan perkotaan/ unsplash
Kemenkes mencatat 333.470 kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla pada 2026, termasuk 75.172 kasus pada balita. Sejumlah daerah masih mengalami kualitas udara buruk.
JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 75.172 kasus terjadi pada anak berusia di bawah lima tahun atau balita.
Data yang disampaikan Kemenkes pada Kamis (22/10/2026) itu mencakup tujuh provinsi terdampak karhutla, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, mengatakan jumlah kasus yang tercatat dalam laporan harian mencapai 4.522 kasus. Kondisi ini menunjukkan dampak kesehatan akibat paparan asap kebakaran masih menjadi perhatian pemerintah.
Kualitas Udara di Sejumlah Daerah Memburuk
Berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan mengalami kualitas udara dalam kategori berbahaya.
Di Kalimantan Tengah, tujuh kabupaten/kota dilaporkan masuk kategori tersebut. Kondisi serupa ditemukan di sejumlah wilayah Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat.
Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 serta sejumlah polutan lain yang dapat mengganggu kesehatan. Paparan tersebut berisiko memicu ISPA, memperburuk asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta menyebabkan iritasi mata dan kulit.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit pernapasan, dan pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus.
Masyarakat Diimbau Membatasi Aktivitas di Luar Ruangan
Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan, masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Penggunaan masker yang sesuai, penutupan celah masuknya asap ke dalam rumah, serta pemantauan informasi kualitas udara juga dapat membantu mengurangi paparan.
Masyarakat yang mengalami sesak napas atau keluhan kesehatan yang memburuk sebaiknya segera mencari pertolongan medis.
Kemenkes menyatakan terus melakukan pemantauan penyakit, edukasi pencegahan, serta memastikan ketersediaan obat dan peralatan kesehatan di wilayah terdampak.
Besarnya jumlah kasus ISPA menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api dan pemulihan lingkungan. Perlindungan kesehatan masyarakat juga perlu menjadi prioritas selama kualitas udara belum kembali aman.
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.