Rupiah Melemah ke Rp 18.022 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga
Bagikan
21 Oktober 2026 | Author :
Foto: Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar AS di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (20/8/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/ny
Rupiah melemah 30 poin ke Rp 18.022 per dolar AS pada perdagangan 21 Oktober 2026. Pasar mencermati keputusan BI dan ketidakpastian global.
JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (21/10/2026). Rupiah turun 30 poin atau 0,17 persen ke level Rp 18.022 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya sebesar Rp 17.992 per dolar AS.
Pelemahan tersebut terjadi setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75 persen. Keputusan ini menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar dalam mencermati pergerakan mata uang domestik.
Dikutip dari pemberitaan ekonomi pada Rabu, analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi perkembangan eksternal, termasuk meningkatnya ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Salah satu perhatian pasar adalah insiden kapal tanker yang terbakar setelah dilaporkan menghantam ranjau laut di selatan Selat Hormuz. Kawasan tersebut merupakan jalur penting perdagangan energi dunia sehingga gangguan keamanan berpotensi memengaruhi pasokan dan harga minyak.
BI Pertahankan Suku Bunga Acuan
Selain BI-Rate sebesar 5,75 persen, bank sentral juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility di level 4,75 persen dan Lending Facility sebesar 6,50 persen.
Keputusan tersebut memperpanjang periode suku bunga acuan yang tidak berubah selama tiga kali pertemuan berturut-turut. Perkembangan kebijakan moneter domestik menjadi salah satu faktor yang dicermati investor dalam menentukan posisi investasinya.
Di sisi lain, ketidakpastian global masih berpotensi memengaruhi pergerakan nilai tukar. Perkembangan konflik geopolitik, kondisi pasar energi, serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi sentimen investor terhadap mata uang negara berkembang.
Pelemahan rupiah perlu dicermati karena perubahan nilai tukar dapat memengaruhi biaya impor, terutama untuk bahan baku dan barang yang pembayarannya menggunakan dolar AS. Namun, dampak terhadap harga barang di dalam negeri bergantung pada sejumlah faktor, termasuk biaya produksi, persediaan, dan kebijakan harga pelaku usaha.
Pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan global dan kebijakan bank sentral untuk melihat arah pergerakan rupiah selanjutnya.
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.