Foto: Petani menyemprotkan pupuk pada bibit padi di sawah Cirebon saat musim kemarau. Foto: REUTERS/Willy Kurniawan
BMKG mengingatkan ancaman kemarau ekstrem 2026 yang diperkirakan lebih kering dan panjang. Petani diminta menyesuaikan pola tanam untuk mengurangi risiko gagal panen.
Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat, khususnya para petani, untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebih kering dan lebih panjang di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi produktivitas sektor pertanian apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Dalam keterangannya, BMKG meminta petani melakukan penyesuaian pola tanam, memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan, serta mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air guna mengurangi risiko gagal panen. Langkah mitigasi tersebut dinilai penting mengingat potensi cuaca kering ekstrem diperkirakan meningkat sepanjang musim kemarau tahun ini.
Berdasarkan prediksi iklim terbaru BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami musim kemarau dengan curah hujan di bawah normal. Sebanyak 482 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 56 persen wilayah diprediksi mengalami kondisi yang lebih kering dari biasanya, sementara durasi musim kemarau di banyak daerah juga diperkirakan lebih panjang dibanding rata-rata klimatologis.
BMKG juga memprakirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026 dan mencakup sekitar 369 Zona Musim atau hampir setengah wilayah Indonesia. Adapun sejumlah wilayah telah mulai memasuki fase puncak kemarau sejak Juli, meliputi sebagian Sumatra, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Meski demikian, BMKG menjelaskan hujan masih berpotensi terjadi di sejumlah daerah. Kondisi tersebut dipengaruhi dinamika atmosfer seperti aktivitas Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuatorial, serta labilitas atmosfer yang masih mendukung pembentukan awan hujan di beberapa wilayah. Karena itu, musim kemarau tahun ini tidak berarti seluruh Indonesia akan mengalami cuaca kering secara bersamaan.
Selain sektor pertanian, BMKG juga mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan, berkurangnya ketersediaan air bersih, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama periode kemarau. Pengelolaan cadangan air dan upaya pencegahan kebakaran dinilai menjadi langkah penting untuk meminimalkan dampak musim kemarau.
BMKG mengimbau masyarakat agar terus memantau informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi lembaga tersebut. Pembaruan prakiraan cuaca dan musim akan terus dilakukan sebagai acuan bagi pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam mengambil langkah antisipasi menghadapi kondisi cuaca yang terus berubah.
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.