Sewa Lapak Jutaan di PRJ, Pedagang UMKM Mengeluh Omzet Tak Sesuai Harapan
Bagikan
29 Juni 2026 | Author :
Foto: Suasana Kampoeng Betawi di Jakarta Fair Kemayoran (PRJ) 2026 yang menjadi lokasi stan UMKM di tengah keluhan pedagang soal sepi pembeli. Foto: ANTARA
Sejumlah pedagang UMKM di PRJ 2026 mengeluhkan omzet yang tak sesuai harapan meski telah mengeluarkan biaya sewa lapak hingga puluhan juta rupiah.
Jakarta – Gelaran Jakarta Fair Kemayoran (PRJ) 2026 kembali menjadi magnet bagi masyarakat untuk berbelanja, menikmati hiburan, hingga berburu kuliner. Namun, di balik ramainya pengunjung, sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengaku belum merasakan dampak positif terhadap penjualan mereka.
Beberapa pedagang yang membuka stan di kawasan Kampoeng Betawi menyampaikan keluhan karena omzet yang diperoleh selama pameran masih jauh dari target. Padahal, mereka telah mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk menyewa lapak dan mempersiapkan stok barang sebelum mengikuti ajang tahunan tersebut.
Keluhan para pelaku UMKM menjadi perhatian publik setelah diberitakan Kompas.com. Mereka menilai salah satu penyebab sepinya pembeli adalah posisi stan yang berada di area belakang, sehingga arus pengunjung tidak merata dibandingkan dengan lokasi yang berada di jalur utama pameran.
Sejumlah pedagang berharap penempatan stan dapat menjadi bahan evaluasi penyelenggara pada penyelenggaraan berikutnya. Menurut mereka, lokasi yang lebih strategis akan memberikan peluang lebih besar bagi UMKM untuk menjangkau calon pembeli.
Selain faktor lokasi, beberapa pedagang juga mengungkapkan bahwa biaya mengikuti pameran tergolong tinggi. Dalam berbagai testimoni yang beredar di media sosial, ada pelaku usaha yang menyebut biaya sewa lapak mencapai puluhan juta rupiah. Dengan pengeluaran sebesar itu, mereka berharap mampu memperoleh omzet yang sebanding selama penyelenggaraan PRJ.
Namun hingga memasuki pertengahan pelaksanaan Jakarta Fair, sebagian pedagang mengaku penjualan belum mampu menutup biaya operasional maupun investasi yang telah dikeluarkan. Kondisi tersebut membuat mereka berharap terjadi peningkatan jumlah pembeli pada sisa hari penyelenggaraan pameran.
Menanggapi keluhan tersebut, pihak JIEXPO selaku penyelenggara Jakarta Fair menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap tata letak stan, khususnya area yang ditempati pelaku UMKM. Evaluasi dilakukan untuk memastikan pemerataan arus pengunjung sehingga seluruh peserta memiliki kesempatan yang sama dalam memasarkan produknya.
Meski demikian, penyelenggara menegaskan bahwa secara keseluruhan antusiasme masyarakat terhadap Jakarta Fair 2026 tetap tinggi. Ribuan pengunjung masih memadati arena pameran setiap hari untuk mengunjungi berbagai tenant, menikmati wahana hiburan, serta menghadiri konser musik yang menjadi agenda rutin PRJ.
Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian UMKM sebelumnya menaruh harapan besar terhadap Jakarta Fair sebagai salah satu ajang promosi produk lokal. Pameran ini diikuti sekitar 2.800 perusahaan dengan sekitar 1.800 tenant, termasuk ribuan pelaku UMKM dari berbagai daerah yang memanfaatkan momentum tersebut untuk memperluas pasar dan meningkatkan transaksi.
Bagi para pelaku UMKM, keberhasilan mengikuti pameran tidak hanya ditentukan oleh banyaknya jumlah pengunjung, tetapi juga pemerataan akses terhadap konsumen. Mereka berharap evaluasi yang dilakukan penyelenggara dapat menghadirkan tata letak stan yang lebih efektif sehingga seluruh peserta, khususnya UMKM, dapat memperoleh manfaat ekonomi yang lebih optimal pada penyelenggaraan Jakarta Fair mendatang.
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.