Banjir Bandang Nepal Tewaskan Hampir 1.000 Orang, Ribuan Masih Hilang

Bagikan
01 September 2026 | Author :
Foto: Kondisi Trishuli Nepal setelah diterjang banjir bandang dan longsor pada Agustus 2026/Nepal Disaster Flood
Banjir bandang dahsyat di Nepal menewaskan hampir 1.000 orang dan membuat ribuan lainnya hilang. Tim penyelamat masih mencari korban di wilayah terdampak.
NEPAL — Banjir bandang dahsyat yang melanda wilayah Nepal sejak 26 Agustus 2026 telah menewaskan hampir 1.000 orang. Hingga Selasa (1/9/2026), jumlah korban meninggal yang dilaporkan terus meningkat, sementara ribuan orang lainnya masih belum ditemukan.

Reuters melaporkan sedikitnya 939 orang meninggal di Nepal berdasarkan data yang tersedia pada Senin (31/8). Sementara laporan terbaru pada Selasa menyebut jumlah korban telah mencapai 962 orang. Perbedaan angka tersebut terjadi karena proses pencarian dan identifikasi korban masih berlangsung di sejumlah wilayah terdampak.

Bencana ini menerjang kawasan pegunungan Nepal, khususnya wilayah yang berada di sekitar perbatasan Nepal dan Tibet, China. Arus air yang datang secara tiba-tiba membawa lumpur, batu, es, serta material longsoran dan menghantam permukiman serta sejumlah fasilitas penting.

Dipicu Runtuhnya Gletser

Banjir besar tersebut diduga bermula dari runtuhnya bagian gletser di kawasan Himalaya. Material es dan batu dalam jumlah besar kemudian bergerak menuju aliran sungai dan memicu gelombang banjir yang sangat kuat.

Reuters melaporkan runtuhnya gletser menyebabkan es, batu, dan lumpur mengalir deras melalui kawasan pegunungan hingga menghantam wilayah di hilir. Infrastruktur seperti jalan, jembatan, rumah, serta fasilitas pembangkit listrik mengalami kerusakan parah.

Peristiwa tersebut juga memperlihatkan tingginya risiko kawasan Himalaya terhadap bencana yang berkaitan dengan perubahan kondisi gletser. Para ilmuwan sebelumnya telah memperingatkan bahwa kenaikan suhu di kawasan pegunungan dapat meningkatkan ketidakstabilan gletser dan memperbesar risiko longsoran serta banjir bandang.

Ribuan Orang Masih Hilang

Selain korban meninggal, ribuan orang masih dinyatakan hilang. Data otoritas Nepal pada 31 Agustus mencatat sekitar 3.925 orang belum diketahui keberadaannya. Di antara mereka terdapat pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air, warga lokal, personel keamanan, serta warga negara asing.

Situasi menjadi semakin sulit karena sejumlah proyek pembangkit listrik ikut diterjang banjir. Ratusan pekerja diduga masih berada di dalam terowongan yang tertutup material lumpur dan reruntuhan.

Reuters melaporkan sekitar 279 pekerja telah berhasil dibebaskan dari lokasi terdampak, sementara sekitar 600 orang lainnya masih diyakini terjebak atau belum ditemukan. Secara keseluruhan, sekitar 11.000 orang telah diselamatkan dari berbagai wilayah yang terkena bencana.

Tim Penyelamat Dikerahkan

Operasi pencarian dan penyelamatan terus dilakukan oleh militer, kepolisian, serta tim khusus. Kondisi medan yang berat menjadi salah satu kendala utama karena sejumlah akses jalan dan jembatan rusak akibat diterjang banjir.

Helikopter digunakan untuk menjangkau kawasan terpencil yang belum dapat diakses melalui jalur darat. Tim penyelamat juga berusaha membuka akses menuju sejumlah terowongan pembangkit listrik yang tertutup lumpur dan material longsoran.

Pemerintah Nepal mengerahkan ribuan personel untuk melakukan pencarian, evakuasi, serta penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak. Bantuan internasional juga mulai berdatangan, termasuk dukungan dari negara-negara tetangga seperti India dan China.

Puluhan Ribu Warga Membutuhkan Bantuan

Dampak bencana tidak hanya berupa korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal dan membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan sekitar 65.000 orang membutuhkan bantuan darurat, terutama untuk kebutuhan air bersih, sanitasi, dan kebersihan. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kerusakan infrastruktur berpotensi menghambat distribusi bantuan ke sejumlah wilayah terpencil.

Sementara itu, kerusakan pada fasilitas pembangkit listrik juga menjadi tantangan tersendiri bagi Nepal. Banjir menghantam sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air yang merupakan bagian penting dari infrastruktur energi negara tersebut.

Pencarian Korban Masih Berlangsung

Hingga Selasa (1/9/2026), proses pencarian korban dan orang hilang masih terus dilakukan. Tim penyelamat harus bekerja di tengah medan yang rusak, kondisi cuaca yang tidak menentu, serta tumpukan lumpur dan material yang menutup sejumlah lokasi.

Jumlah korban diperkirakan masih dapat berubah seiring dengan ditemukannya korban dan proses identifikasi berlangsung. Pemerintah Nepal juga menghadapi tantangan besar untuk memulihkan akses transportasi, listrik, komunikasi, dan fasilitas publik di daerah yang terdampak.

Bencana ini menjadi salah satu tragedi banjir paling mematikan yang melanda Nepal dalam beberapa tahun terakhir sekaligus menyoroti meningkatnya ancaman bencana hidrologis dan geologis di kawasan Himalaya
Baca Juga
• Prancis Dukung Uni Eropa Evaluasi Perjanjian dengan Israel
• PBB Ungkap Israel tak Mudahkan Bantuan Kemanusiaan Masuk ke Gaza
• RI Dan Thailand Komitmen Perangi Judol, Narkotika, hingga Perdagangan Manusia
• Berniat Positif Putin Isyaratkan Siap Lakukan Pembicaraan Langsung dengan Ukraina
• Ketegangan Timur Tengah Memuncak, AS Pertimbangkan Operasi Militer Lebih Luas terhadap Iran
#BanjirNepal #Nepal #BanjirBandang #BencanaAlam #Himalaya #NepalFlood #FlashFlood #BeritaInternasion
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.