Kontroversi Raffi Ahmad Merembet ke RANS Carnival, Pedagang Kuliner Mundur

Bagikan
03 November 2026 | Author :
Foto: Threads/Instagram
Kontroversi RANS Carnival di Sleman membuat sejumlah UMKM mundur. Pedagang menghadapi tantangan setelah stok dagangan telanjur diproduksi.
SLEMAN — Kontroversi yang menyeret nama Raffi Ahmad berdampak pada penyelenggaraan RANS Carnival 2026 di kawasan Stadion Maguwoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memutuskan mundur dari acara tersebut di tengah seruan boikot yang berkembang di media sosial.

Keputusan itu menjadi perhatian karena sebagian pedagang telah menyiapkan stok dan kebutuhan berjualan sebelum acara berlangsung pada 31 Oktober hingga 1 November 2026. Pengunduran diri sejumlah tenant menambah tantangan bagi pelaku usaha yang berharap memperoleh pendapatan dari kegiatan tersebut.

Dikutip dari pemberitaan detikFood pada 1 November 2026, sejumlah gerai kuliner yang mengumumkan pengunduran diri antara lain Roti Gembong Gedhe, Klepon Gendhis, Pisang Madu Nyonya, Kalapaa, Ayam Tetanggamu, dan Jeruk Lokal Maguwoharjo.

## Pedagang Hadapi Risiko Stok dan Modal

Pengunduran diri dari sebuah acara tidak serta-merta menghilangkan biaya yang telah dikeluarkan pelaku UMKM. Persiapan bahan baku, produksi makanan, pengadaan kemasan, hingga tenaga kerja menjadi pengeluaran yang perlu diperhitungkan sebelum pedagang memperoleh pemasukan.

Salah satu pelaku usaha, Roti Gembong Gedhe, menyampaikan melalui media sosial bahwa mereka telah memproduksi roti dalam jumlah besar sebelum memutuskan mundur dari acara tersebut.

Untuk mengantisipasi stok yang telanjur disiapkan, usaha tersebut mengarahkan penjualan ke sejumlah gerainya. Langkah itu dilakukan agar produk tetap dapat dipasarkan meskipun mereka tidak lagi berpartisipasi dalam RANS Carnival.

Sejumlah pelaku UMKM lainnya juga mendapat dukungan dari masyarakat. Berdasarkan laporan detikFood, warganet membantu membeli produk dari beberapa gerai yang memutuskan mundur. Ada pula pembeli yang memesan makanan untuk dibagikan kepada pengemudi ojek daring dan warga sekitar.

Dukungan tersebut membantu sebagian pedagang menyalurkan produk yang sudah disiapkan. Namun, respons positif masyarakat di media sosial tidak otomatis menjamin seluruh pelaku usaha dapat menutup biaya produksi dan operasional yang telah dikeluarkan.

## Kontroversi Berawal dari Sorotan terhadap Raffi Ahmad

Seruan boikot RANS Carnival berkembang setelah Raffi Ahmad menjadi sorotan atas kehadirannya dalam kegiatan deklarasi Sumpah Pemuda di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, pada akhir Oktober 2026.

Kegiatan tersebut menuai kritik di media sosial. Perdebatan kemudian meluas hingga memengaruhi respons publik terhadap RANS Carnival, yang diselenggarakan oleh perusahaan hiburan milik Raffi Ahmad.

Sejumlah musisi yang semula dijadwalkan tampil, termasuk Tipe-X, Guyon Waton, dan OM Wawes, mengumumkan pengunduran diri melalui kanal masing-masing. Sejumlah pelaku UMKM kemudian mengambil langkah serupa.

Meski demikian, keputusan setiap musisi dan pedagang memiliki pertimbangan masing-masing. Alasan yang disampaikan para pihak perlu menjadi dasar pemberitaan, tanpa menggeneralisasi bahwa seluruh pengisi acara dan tenant mundur karena alasan yang sama.

Raffi Ahmad sebelumnya memberikan klarifikasi mengenai kehadirannya dalam deklarasi tersebut. Ia menyatakan hadir sebagai undangan dan mengaku tidak terlibat dalam perencanaan maupun penyusunan acara. Ia juga membantah tuduhan mengatur kemunculan merek tertentu dalam kegiatan itu.

Klarifikasi tersebut merupakan pernyataan Raffi Ahmad atas polemik yang berkembang. Adapun kritik publik terhadap kegiatan tersebut tetap menjadi bagian dari dinamika yang melatarbelakangi seruan boikot.

## Penyelenggara Berupaya Melanjutkan Acara

Pihak RANS Carnival turut menyampaikan pernyataan resmi terkait situasi yang berkembang. Dalam pernyataan yang diberitakan detikHot pada 31 Oktober 2026, penyelenggara menyebut acara tersebut sejak awal dirancang sebagai hiburan gratis bagi masyarakat sekaligus ruang bagi musisi, kreator, dan pelaku UMKM.

Penyelenggara juga menyampaikan harapan agar RANS Carnival dapat terus menjadi wadah kolaborasi bagi pekerja seni dan pelaku usaha lokal.

Dalam perkembangan berikutnya, pihak RANS Carnival menyatakan berupaya melanjutkan penyelenggaraan dengan konsep yang lebih sederhana serta tetap melibatkan pekerja seni, UMKM, dan komunitas kreatif setempat.

Namun, pernyataan tersebut belum dengan sendirinya menjawab persoalan yang dihadapi pedagang yang telah mengeluarkan biaya persiapan sebelum memilih mundur. Dampak finansial yang dialami masing-masing pelaku usaha juga tidak dapat disamaratakan tanpa data mengenai biaya produksi, penjualan, dan pengeluaran operasional mereka.

## Nasib UMKM Menjadi Sorotan

Kontroversi RANS Carnival memperlihatkan bagaimana persoalan yang melibatkan figur publik dapat meluas ke pihak lain yang memiliki kepentingan ekonomi dalam sebuah acara.

Bagi UMKM, partisipasi dalam festival bukan sekadar kesempatan mempromosikan produk, tetapi juga keputusan usaha yang melibatkan modal, tenaga, waktu, dan perhitungan potensi penjualan.

Di sisi lain, keputusan untuk mundur dapat menjadi bentuk sikap yang dipilih pelaku usaha di tengah situasi sosial yang berkembang. Keputusan tersebut tetap membawa konsekuensi ekonomi yang perlu diperhitungkan, terutama ketika persiapan produksi sudah dilakukan.

Dukungan konsumen terhadap pedagang yang terdampak menunjukkan bahwa perhatian publik dapat beralih menjadi tindakan ekonomi nyata. Meski demikian, perlindungan kepentingan UMKM tidak cukup bergantung pada solidaritas warganet. Transparansi penyelenggaraan, komunikasi yang jelas, dan pengelolaan risiko kegiatan juga menjadi hal penting dalam membangun kemitraan yang berkelanjutan.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ketika sebuah acara menghadapi kontroversi, dampaknya dapat dirasakan oleh pelaku usaha kecil yang tidak selalu menjadi bagian dari persoalan utama. Karena itu, kondisi dan kepentingan UMKM perlu tetap mendapat perhatian dalam setiap evaluasi penyelenggaraan acara.
Baca Juga
• Transaksi UMKM di Platform E-Commerce Melonjak Selama Ramadan
• Kontroversi Raffi Ahmad Merembet ke RANS Carnival, Pedagang Kuliner Mundur
• RANS Carnival di Sleman Sepi Pengunjung, Sejumlah Tenant UMKM Ikut Mundur
• Sewa Lapak Jutaan di PRJ, Pedagang UMKM Mengeluh Omzet Tak Sesuai Harapan
• Jakarta Running Festival Hasilkan Dampak Ekonomi Rp175 Miliar, 49 UMKM Terlibat
#RANSCarnival #RaffiAhmad #UMKM #Sleman #BoikotRANSCarnival #EkonomiUMKM #BeritaNasional
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.