Saham GOTO Anjlok 92% dari Harga IPO, Sentuh Level Rp28 usai Aturan Baru BEI
Bagikan
04 Oktober 2026 | Author :
Foto: Ilustrasi/ANTARA
Saham GOTO kembali tertekan hingga Rp28 per lembar dengan volume transaksi jumbo. Harga tersebut mencerminkan penurunan sekitar 92% dari harga IPO Rp338 per saham.
Jakarta – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali terjerembab dalam, kali ini menyentuh level Rp28 per lembar saham dengan volume transaksi jumbo. Penurunan ini membuat saham raksasa teknologi tersebut telah anjlok hingga 92% dibandingkan harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar Rp338 per saham saat pertama kali melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada April 2022.
Berawal dari Perubahan Batas Harga Minimum BEI
Tekanan terhadap saham GOTO mulai memuncak setelah Bursa Efek Indonesia menerapkan kebijakan baru yang mengubah batas harga minimum saham dari sebelumnya Rp50 (dikenal dengan istilah "gocap") menjadi Rp1 per saham. Sebelum perubahan aturan ini, saham GOTO sempat tertahan di level gocap sejak 5 Mei 2026, karena memang sudah menyentuh batas bawah yang berlaku saat itu.
Begitu aturan baru diterapkan, saham GOTO langsung anjlok ke level auto rejection bawah (ARB) dan terus mengalami tekanan jual dalam beberapa sesi perdagangan berikutnya, hingga akhirnya menembus level Rp28.
Fundamental vs Sentimen Pasar
Head of Corporate Affairs GOTO, Audrey Petriny, sebelumnya menegaskan bahwa harga saham GOTO saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis perseroan yang justru terus membaik. Berdasarkan laporan keuangan, GOTO mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp5,7 triliun, dengan adjusted EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) tembus lebih dari Rp1 triliun.
Meski demikian, saham GOTO tetap menghadapi tekanan sentimen pasar yang berat, terutama setelah perusahaan tersingkir dari indeks MSCI Global Standard, ditambah ketidakpastian pasar akibat perubahan mekanisme batas harga minimum saham yang baru diterapkan BEI.
Volume Transaksi Jumbo
Penurunan saham GOTO kali ini turut diwarnai volume transaksi yang sangat besar, mengindikasikan tingginya aktivitas jual-beli di tengah gejolak harga. Banyak investor ritel yang sebelumnya masuk saat harga saham masih jauh lebih tinggi kini tercatat "nyangkut" dengan kerugian signifikan akibat penurunan harga yang berlangsung dalam waktu relatif singkat.
Peringatan dari Analis
Sejumlah analis pasar modal mengingatkan bahwa harga saham yang rendah secara nominal tidak selalu berarti saham tersebut murah secara valuasi. Investor diimbau untuk tetap mencermati kondisi fundamental perusahaan ketimbang semata-mata tergiur oleh harga saham yang terlihat sangat terjangkau di level recehan seperti ini.
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.