Heboh ‘Kupas Bawang’ Rp700 Ribu, Pernyataan Prabowo Kembali Dibahas

Bagikan
21 Agustus 2026 | Author :
Foto: Prabowo menyampaikan pidato kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR 2026/BPMI
Pernyataan Prabowo soal upah pengupas bawang Rp700 ribu per kilogram masih ramai dibahas. Polemik muncul terkait konteks, data, dan sosok yang disebut dalam pidato
JAKARTA — Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai upah buruh pengupas bawang sebesar Rp700 ribu per kilogram masih menjadi perbincangan publik. Pernyataan yang disampaikan dalam pidato kenegaraan tersebut kembali ramai di media sosial dan memunculkan perdebatan mengenai konteks serta akurasi informasi yang diterima Presiden.

Prabowo menyampaikan pernyataan itu saat berpidato dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada 14 Agustus 2026. Dalam pidatonya, Prabowo memperkenalkan seorang perempuan bernama Susanah dari Kabupaten Bogor yang disebut bekerja sebagai buruh harian pengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram.

Pernyataan tersebut kemudian menyebar luas di media sosial. Angka Rp700 ribu per kilogram menjadi bagian yang paling banyak dibicarakan, sementara substansi lain dalam pidato Presiden justru dinilai kurang mendapatkan perhatian.

Istana Soroti Cara Informasi Menyebar

Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, turut memberikan tanggapan mengenai polemik tersebut. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak hanya berfokus pada satu atau dua kalimat yang dipotong dari keseluruhan pidato.

Menurut Hasan, fenomena tersebut berkaitan dengan cara algoritma media sosial bekerja. Konten yang dianggap menarik atau kontroversial dapat dengan cepat menyebar dan kemudian mendominasi percakapan publik.

Hasan mengajak masyarakat melihat pidato Presiden secara lebih utuh dan memahami gagasan utama yang disampaikan, bukan hanya mengikuti potongan pernyataan yang beredar di media sosial.

Ia juga mengingatkan pentingnya membangun kebiasaan dalam mengonsumsi informasi agar masyarakat tidak mudah terbawa oleh arus percakapan digital. Menurutnya, publik perlu memeriksa konteks sebelum menarik kesimpulan dari sebuah pernyataan.

Sosok Susanah Ikut Menjadi Sorotan

Polemik tersebut turut membuat sosok Susanah menjadi perhatian publik. Perempuan asal Kabupaten Bogor itu sebelumnya disebut Prabowo sebagai buruh harian yang bekerja mengupas bawang.

Namun, sejumlah pemberitaan kemudian mempertanyakan informasi tersebut. Keterangan yang beredar menyebut Susanah sebenarnya bekerja sebagai buruh jahit kain perca atau majun dan pencuci wadah makanan, bukan sebagai pekerja pengupas bawang seperti yang disebutkan dalam pidato Presiden.

Perbedaan informasi tersebut kemudian memperbesar perdebatan mengenai sumber data yang digunakan dalam penyusunan materi pidato Presiden. Persoalan yang awalnya hanya menjadi potongan pernyataan viral berkembang menjadi diskusi mengenai pentingnya akurasi data sebelum sebuah informasi disampaikan dalam forum kenegaraan.

Angka Rp700 Ribu Jadi Perhatian Publik

Selain persoalan identitas dan pekerjaan Susanah, angka Rp700 ribu per kilogram juga menjadi sorotan karena dianggap tidak lazim jika dibandingkan dengan harga komoditas bawang di pasar.

Sejumlah pemberitaan kemudian membandingkan angka tersebut dengan data harga bawang merah dan bawang putih di tingkat pasar. Perbandingan itu semakin mendorong masyarakat mempertanyakan apakah angka yang disebut dalam pidato merupakan upah untuk aktivitas tertentu atau terdapat kekeliruan dalam penyampaian informasi.

Meski demikian, polemik tersebut tidak mengubah keseluruhan isi pidato Presiden yang membahas berbagai agenda pemerintah. Hasan Nasbi menilai masyarakat seharusnya tetap melihat gagasan besar yang disampaikan Prabowo, termasuk berbagai kebijakan pemerintah, dan tidak menjadikan satu potongan pernyataan sebagai satu-satunya ukuran terhadap keseluruhan pidato.

Polemik Berlanjut di Media Sosial

Hingga Jumat, 21 Agustus 2026, isu “kupas bawang” masih menjadi bahan perbincangan di ruang digital. Bahkan, pemberitaan dan komentar baru mengenai pernyataan tersebut masih bermunculan.

Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana satu pernyataan dalam pidato pejabat publik dapat berkembang menjadi isu besar ketika dipotong dan disebarkan melalui media sosial. Di sisi lain, polemik tersebut juga menyoroti pentingnya ketepatan data dan verifikasi informasi sebelum disampaikan kepada publik.

Bagi pemerintah, persoalan ini menjadi pengingat bahwa komunikasi kebijakan tidak hanya membutuhkan pesan yang kuat, tetapi juga data yang akurat. Sementara bagi masyarakat, derasnya arus informasi digital membuat kemampuan memeriksa konteks dan sumber menjadi semakin penting agar sebuah pernyataan tidak dipahami secara keliru.
Baca Juga
• Prabowo Mengunguli Ganjar, Pengamat : Prabowo menjadi titik fokus polarisasi Ganjar-Anies
• Hindari Terjadi Pelanggaran, Bawaslu Awasi Ketat Delapan Daerah PSU
• Pemilu 2024 Selesai, Golkar Berhasil Kuasai 18 Persen Kursi Parlemen
• Dukung Kebijakan Presiden terkait Efisiensi Anggaran, DPD: Cegah Kebocoran Anggaran Pemerintah Pusat
• PSI Dibawag Kaesang Pangarep Resmi Usung Gusti Bhre sebagai Calon Wali Kota Solo di Pilkada 2024
#prabowo #kupasbawang #prabowosubianto #pidatoprabowo #politikindonesia #istana #pemerintahanprabowo
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.